Belajar Menjadi Gila
Menjadi gila tak selamanya buruk. Diteriakin sinting juga tak selalu merugikan. Justru dari ide-ide gila itu kadangkala muncul inovasi baru yang mungkin bakal menaikkan derajat Anda. Nggak percaya?
Saya punya seorang kawan. Ini kisah nyata. Nama lengkapnya Fransiscus Xaverius Widyatmoko. Tapi anak-anak sering memanggilnya Koko.
Tabiatnya aneh. Paling tidak dari sudut pandang teman-temannya yang normal. Bagaimana tidak? Dia paling suka pergi kuliah hanya dengan jins belel yang dia potong sebatas lutut dan kaos oblong warna hitam. Sandal jepit adalah teman setianya pergi ke kampus.
Untungnya dia kuliah di jurusan yang melegalkan segenap kegilaan, Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.
Pertama kali saya mengenalnya masih dalam kondisi ‘normal‘ ketika kami sama-sama mengikuti penataran P4 yang memang tidak memperkenankan beragam keanehan. Orangnya sedikit pendiam namun dia banyak menyimpan ide-ide kreatif di dalam kepalanya.
Suatu hari saya bertandang ke tempat kosnya. Dan saya benar-benar nggak habis pikir menyaksikan kondisi kamarnya yang lebih semrawut dari kapal pecah. Bayangkan saja, di ruangan yang tidak lebih dari dua kali dua meter itu, tersimpan beragam barang. Sebut saja, tong minyak besar, pahat, gergaji, palu, kanvas, lemari baju, cat, alat sablon, kandang burung (lengkap dengan perkututnya), panci, baju, rokok, wajan, alat lukis, kertas-kertas, kardus, buku, kaset, tape, akuarium, komputer, tampah, gerinda, dan lain-lain.
Herannya, saya tidak menemukan kasur atau bantal. Lagipula buat apa kasur, kalau tempat buat tidur saja tinggal seukuran tiga puluh senti kali satu meter. Alias gaya tidurnya pun dalam posisi miring! Alamak!
Keanehan lainnya adalah nyaris dia tidak pernah membawa buku waktu kuliah. Pernah sekali waktu kami kuliah bersama untuk mata kuliah umum Etika. Waktu kuliah dimulai, Koko segera mengeluarkan peralatan perang dari dalam tas. Bukan buku dan ballpoint, tapi palu dan pahat! Bayangkan kuliah Etika dua jam yang membosankan, dia pakai untuk memahat bangku kuliah. Benar-benar gila!
Jadi, jika suatu saat Anda mengunjungi gedung kuliah di ITB, sepeti gedung Oktagon, gedung Liga Film Mahasiswa, atau gedung-gedung kuliah lainnya, dan menemukan pahatan nama ‘KOKO’ yang terukir indah di meja atau bangku kuliah, pastilah itu hasil karya isengnya.
Kesintingan lainnya adalah dia sering membuat karya seni yang terbilang gila dan nggilani (menjijikkan). Pernah dalam satu acara pameran seni di Bandung, dia memamerkan karya-karyanya berbentuk kotoran manusia aneka bentuk yang tampak sempurna. Dijamin Anda bakal kehilangan selera makan setelah beberapa jenak menyaksikannya! Tapi lantaran itu, dia sempat menjadi perhatian pengunjung.
Selain itu, Koko termasuk perokok berat. Tak peduli merk rokoknya, pasti dia embat. Suatu kali karena hantaman badai krisis, dia tak mampu membeli rokok yang saat itu harganya ikut membumbung. Alhasil, demi memenuhi keinginannya merokok, dia membeli tembakau paling murah di Pasar Baru. Lalu, untuk menghisapnya, tembakau itu dilinting pakai kertas HVS dan dibakar. Ih, gimana rasanya ya?
Itulah Koko teman saya. Dengan segenap kegilaannya dia berhasil menyelesaikan studi sarjana dan masternya di Jurusan Desain Komunikasi Visual ITB. Hasil kreativitasnya juga telah menelurkan berbagai karya di beberapa kaos berlabel C59 (CALADI 59), sampul novel dan majalah, dan karya desain lainnya. Saat ini pun Koko senantiasa menularkan virus gilanya ke mahasiswa yang dia ajar di Institut Seni Indonesia Yogyakarta dan Sekolah Tinggi Seni lainnya. Dan entah kenapa sekarang dia mengganti nama panggilannya menjadi Koskow. Mungkin biar terdengar keren.
Mitra bisnis online, kegilaan tidak selalu merugikan. Ide-ide out of the box terkadang memang sangat dibutuhkan dalam berbisnis. Tengoklah Microsoft, Facebook, Kentucky Fried Chicken, General Electric, Google, atau perusahaan-perusahaan besar lainnya. Mereka dibangun dari suatu ide nyentrik yang awalnya dicibir orang.
Seperti kata Leonardo Da Vinci bahwa setiap batu cadas selalu terkandung patung yang indah*. Sebenarnya Da vinci ingin mengatakan bahwa tugas kitalah untuk melepaskan belenggu pada cadas itu demi membentuk mahakarya seni yang agung. Untuk itu diperlukan ide-ide kreatif, unik, dan nyentrik.
Lalu, apa yang bisa dipelajari dari orang-orang kreatif dengan ide-ide eksentrik seperti Koko? Seorang Begawan Bisnis Rhenald Khasali mengemukakan bahwa orang-orang kreatif selalu membuka pintu dan mengeksplorasi pilihan-pilihannya. Dengan ide-ide nyentriknya Koko berusaha mencoba beragam hal yang seringkali ‘ditabukan’ masyarakat. Dia mencoba merokok dengan kertas HVS, membuat karya berupa kotoran manusia, mencipta pahatan-pahatan seni di setiap bangku yang didudukinya, dan lain-lain.
Apakah itu salah? Sejauh tidak melanggar norma masyarakat bukankah itu sah dijalankan? Siapa tahu yang dihasilkan disukai dan digemari konsumen. Atau malahan bisa menjadi trendsetter. Siapa tahu?
Salam Untung Nyata!
Catatan :
* Kata-kata Leonardo Da Vinci itu dikutip juga oleh Rhenald Khasali dalam bukunya Wirausaha Muda Mandiri terbitan Gramedia.
**Ilustrasi gambar diambil dari http://idemerdekaku.blogdetik.com/files/2008/09/gila583.jpg
Artikel terkait :




58 komentar
Orang normal pasti tidak akan mengerti apa yang orang gila lakukan, jadi kalau mau mengerti orang seperti mas koko, ya kita harus gila lagi..
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 9th, 2010 at 10:27 am
@Triagung.com, hahaha… gak perlu jadi gila, mas. Namun coba berpikirlah dari sudut pandang yang orang biasa tidak lakukan.
[Reply]
orang gila sepertinya beda dengan orang kreatif gimana menurut mas Budhi?
Ahmad Subandono´s last blog ..Tulislah dengan Tinta Emas
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 9th, 2010 at 10:00 am
@Ahmad Subandono, Gila secara klinis memang berbeda dengan ‘gila’ atau aneh menurut pandangan masyarakat . Yang saya bahas ini adalah bagaimana mencoba berpikir non prosedural demi menciptakan suatu karya.
[Reply]
Kalo bisa waras, kenapa harus gila… heuheuheu… heuheu…
(Komen sementara)
Vidzas Erdien´s last blog ..Tips Mengatasi Gagal Ginjal
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 9th, 2010 at 1:17 pm
@Vidzas Erdien, Tenang mas, ini wacana berpikir kok. Bukan gila beneran…
[Reply]
Wah benerebener gila Mas Hehehe….

Vidzas Erdien´s last blog ..Tips Mengatasi Gagal Ginjal
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 9th, 2010 at 1:18 pm
@Vidzas Erdien,


[Reply]
ada cerita begini mas…
seseorang yang keluar dari pns demi menggapai impiannya menjadi pengusaha, dicibir teman-temannya karena sudah melakukan “kegilaan” karena merelakan gaji jutaannya demi sebuah bisnis yang belum tentu ada hasilnya.
Disisi lain, seorang pengusaha malah berpikir terbalik. Sudah pasti seorang pns itu akan mendapatkan uang pensiun yang besarnya tidah lebih dari 1/3 kali gajinya sekarang, tapi kok masih tetap bertahan. Padahal penghasilan sebesar itu sudah dipastikan tidak bisa mencukupi biaya hidup ketika dia pensiun nanti. Bukankah itu sebuah “kegilaan” ?????
Salam Kreatif,
Octa Dwinanda
online-business-story.com´s last blog ..Dapat Domain dan Hosting Gratis dari Blogwalking
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 9th, 2010 at 6:00 pm
@online-business-story.com, hmmm


[Reply]
kaget juga ke kampus pake sendal jepit,
gak taunya anak seni rupa.
tapi ulahnya emang bener-bener gila mas hehehhe
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 10th, 2010 at 5:48 pm
@candradot.com, hihihi…
[Reply]
ngga salah mas kalo gitu . namanya juga udah naluri dia . tapi kita bisa belajar banyak dari dia tuh .
Thanks
Imamz
[Reply]
Khalid Abdullah Reply:
March 10th, 2010 at 9:03 am
@Imamz, kira-kira gilanya gw, sama kayak koko gak mam ?
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 10th, 2010 at 5:49 pm
@Imamz, ya… waktu itu saya juga sering diskusi mengenai banyak hal dengan dia. terutama berkaitan dengan ide-ide menulis dan fotografi.
[Reply]
Menjadi gila seperti kisah teman anda tidak masalah sepanjang tidak ada yang merasa dirugikan. Intinya, asal tidak merugikan orang lain saja deh. Titik.
Gila dalam arti seperti kisah di atas mungkin cenderung berarti melakukan sesuatu yang tidak lazim atau tidak biasanya. Kalau memang ada manfaat buat si pelaku, it’s oke banget sih. Lain soal kalau malah merugikan diri sendiri. Lebih-lebih jika merugikan orang lain.
Saya lebih senang mendefinisikan “kegilaan” dengan hal-hal yang kreatif dan inovatif Mas.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 10th, 2010 at 5:50 pm
@iskandaria, betul mas Iskandar. Ini yang saya inginkan. Semoga tulisan ini menginspirasi sebuah kegilaan baru untuk sebuah kreativitas.
[Reply]
berarti mashengky masih kalah gila ya.. padahal sama2 pake fransiscus xaverius nih… wakakakakak
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 10th, 2010 at 5:51 pm
@mh, jangan-jangan orang yang pakai nama fx di depannya agak-agak miring ya? hehehe

[Reply]
mas Untung, boleh minta nomor telefonnya mas Koko gak ??? saya pengen ngobrol atau smsan sama amas Koko mas….
saya pengen lebih gila lagi mas.. saya merasa saya kurang gila kahir-akhir ini..jadi butuh suplai dari orang gila mas….
tolong ditanyakan ya mas… mas Koko bersedia tidak diminta nomor telefonnya.
[Reply]
Khalid Abdullah Reply:
March 10th, 2010 at 9:08 am
@Khalid Abdullah, plisssssssss
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 10th, 2010 at 6:41 pm
@Khalid Abdullah, waduh… saya sudah lama nggak kontak dia, mungkin sebaiknya sambangi dulu blognya di link yang di atas.
[Reply]
Khalid Abdullah Reply:
March 11th, 2010 at 9:06 am
@Budhi Kusuma Wardhana, okeh mas…makasih atas jawabannya
[Reply]
Gila bagi orang lain yang menilai, tapi bagi pelakunya sungguh merupakan luapan emosinya untuk berinovasi dan berkarya. Mudah2an negeri ini selalu melahirkan orang2 “gila” baru seperti koko. bukan orang2 yang “gila” kekuasaan.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 10th, 2010 at 6:42 pm
@Andrik Sugianto, wah komentar yang satir… bener mas jangan sampai kita gila kekuasaan…
[Reply]
seperti apa kata Ronggowarsito, di zaman edan yang gila adalah yang waras :-) terkadang melawan arus zaman memang menyakitkan pada awalnya, tapi tak jarang juga menemukan sesuatu yang nyaman pada akhirnya
salam kenal
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 11th, 2010 at 7:23 pm
@pensiun kaya belajar investasi, salam kenal juga, mas. Pengemar filsafat jawa, mas?
[Reply]
kadang dengan ide gilanya itulah yang membuat orang mudah mengingatnya sehingga apa yang ia lakukan menjadi perhatian orang lain, dan itulah yang membuat dia semakin terkenal dan akhirnya menjadi sukses
mas kadi´s last blog ..Belajar dari pedagang asong
[Reply]
Ide gila juga menjadi salah satu pendukung blog saya bisa ngetob. Berani keluar dari aturan umum dan siap menanggung resiko apapun.
Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya.
[Reply]
Arief Rizky Ramadhan Reply:
March 11th, 2010 at 5:21 pm
@Agus Siswoyo, yap.. jangan takut ambil keputusan dan jangan lupa tanggung resikonya
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
March 12th, 2010 at 6:09 pm
@Arief Rizky Ramadhan, termasuk resiko diledekin penyuka boneka ya…


Hahaha…
Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 11th, 2010 at 7:24 pm
@Agus Siswoyo, hehehe betul mas!
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
March 12th, 2010 at 6:08 pm
@Budhi Kusuma Wardhana, dan mas Budhi termasuk golongan orang waras dibanding saya…


Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya.
[Reply]
kisah-kisah gila semasa kuliah memang unik dan selalu mengundang memori masa lampau. asyik bin happy!
tentu saya, gila dalam konteks membangun kreatifitas, akan memberi tonjolan yang bagus untuk ekspresi diri. jika di kaitkan dengan urusan bisnis, memberi peluang merebut hati banyak orang.
fadly muin´s last blog ..Bagaimana Cara Menulis Yang Baik dan Benar?
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 11th, 2010 at 8:21 pm
@fadly muin, komentarnya kena banget mas. Top markotop!
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
March 12th, 2010 at 6:12 pm
@fadly muin, mas Fadly bisa gila juga ya? Kirain waras terus. Hahaha…


Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya.
[Reply]
kalau mahasiswa seni rupa saya gak heran mas, hehe, wong guru seni rupa saya saat di SMA saja cukup aneh kok. hehe, tapi tetep
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 11th, 2010 at 8:09 pm
@hanif IM, di kampus saya itu ada dikotomi dua dunia. Satu dunia teknik dan sains yang lurus. Satu lagi dunia seni yang penuh liku. Keduanya sering beradu dalam konsep berpikir. Setiap kali mentok, pasti antar mereka saling mengumpat. “Dasar anak seni!” “Dasar anak teknik!”
Dua-duanya gak pernah nyambung.
[Reply]
out of box bisa menjadi trend baru, trend baru bisa membuat kita lebih dikenal dibanding yang lain. kenapa ? karena orang mencari yang beda dari yang lain. Be your self..
buku Wirausahawan muda mandiri emang tob !
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 11th, 2010 at 7:27 pm
@Arief Rizky Ramadhan, baca juga bukunya ya Rief? Salah satu profil yang diulas di situ adalah junior sekaligus teman saya yang sekarang sukses jadi fotografer glamour. Ntar aku mau bikin ulasannya di sini.
[Reply]
Arief Rizky Ramadhan Reply:
March 14th, 2010 at 7:49 pm
@Budhi Kusuma Wardhana, oh iya yang fotografer itu…
[Reply]
denger-denger sih… makin banyak pake otak kanan katanya makin “gila”, ati-ati aja jangan sampai terlalu ke kanan..
suarakelana´s last blog ..Bersaing ? Siapa Takut !
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 11th, 2010 at 8:20 pm
@suarakelana, Ya nggak gitu lah mas… Kalau anda mengikuti acara Indonesia Smart from Home dari Ayah Eddy di radio SMART FM, anak-anak otak kanan adalah anak yang dikaruniai Tuhan untuk menjadi penemu, maestro seni, pemimpin, dan orang-orang besar. Leonardo Da Vinci dan Thomas Alfa Eddison adalah salah dua contohnya.
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
March 12th, 2010 at 6:15 pm
@Budhi Kusuma Wardhana, saya termasuk otak mana ya?


Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya.
[Reply]
gila loe, bagus banget artikelnya…
oke Mas kita gila-gilaan yo…. jangan nanggung gitu lho, harus total.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 12th, 2010 at 12:32 pm
@yons,


[Reply]
Asal Gilanya jangan sampe kebablasan aja ya mas Budi…

Rafi´s last blog ..Arti Cinta…….
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
March 12th, 2010 at 12:32 pm
@Rafi,


[Reply]
Waduh ada yang ngajakin gila bareng

Ripiu´s last blog ..Ripiu di Job Fair 2010 Braga
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
March 14th, 2010 at 2:22 pm
@Ripiu, gila berjamaah…


Agus Siswoyo´s last blog ..Maaf, Anda Salah Jalur. Silakan Putar Balik Setelah Rambu Berikutnya.
[Reply]
mungkin waktu hamil, ibu nya ngidam otak2 mas

mh´s last blog ..Belantara Internet Semakin Lebat
[Reply]
gila seperti yang di maksud di tulisan ini sebenernya bukan gila=edan tapi nyeleneh aje ato aneh, tidak umum, dan memiliki kepribadian yang mantap, tidak terpengaruh dengan pola umum. ada banyak orang sukses yang memiliki kegilaan seperti ini. tapi tidak semua orang sanggup menjalani hidup seperti itu dan tidak semua orang bisa sukses.. ya kan?
Tapi juga banyak yang sukses dan tidak nggilani kok. Yang terpenting, jadilah diri sendiri deh.
salam hangat.
herlina mutmainah
[Reply]
[...] saya yang satu ini sangat santun. Sedikit berbeda dengan teman saya Koko yang saya ceritakan di tulisan terdahulu. Sosok Jerry sangat flamboyan. Murah senyum. Tapi benaknya menyimpan banyak sekali ide dan [...]
Bukan gila sebenarnya, cuma banyak sekali ide ide aneh yang bagi mas Koko belum sambung menyambung, sehingga barang apa saja dikumpulkan begitu ada ide tentang barang tersebut, begitu terkumpul nanti akan jadi sambung menyambung
[Reply]
hahaha awas mas nanti jadi bener2 gila:hihi:
[Reply]
Terima ksih atas info dan motivasinya.
[Reply]
belajar menjadi gila???
kirain saya blognya jelek,tapi ternyata bagus
salam kenal dan terimakasih banyak atas informasinya!
[Reply]
waduh ada ada aja nih judul postinganya pake belajar jadi gila, kalo jadi gila bneneran pasti bakal repot tuh :hihi:
[Reply]
Beri Komentar