Bisnis Plus-Plus

Apakah kita tega menjalankan bisnis yang berdampak pada kerusakan masa depan bangsa?
Setelah break ngeblog lantaran kesibukan kerja yang luar biasa seperti tertulis di artikel sebelumnya, akhirnya saya bisa punya sedikit waktu untuk sekedar pulang kampung lebaran kemarin. Mudik barangkali adalah cerita biasa dan jamak adanya. Pastilah tak lepas dari kemacetan, kepenatan, dan kecapekan karena perjalanan jauh. Lalu segalanya bakal sirna setelah bertemu dengan orang-orang yang kita cintai.
Begitulah, setelah lebih 12 jam saya mengarungi lebih dari 600 km jalur pantura, akhirnya saya tiba di rumah orang tua saya di Kota Pati. Ternyata saya menemukan perubahan yang signifikan dari kampung saya ini.
Pati adalah salah satu kabupaten kecil di Jawa Tengah, sekitar 70 km dari Semarang. Tak ada yang terlalu istimewa di sini, kecuali Kacang Garuda dan Dua Kelinci yang barangkali sudah menjadi ikon kota. Industri dan ekonomi yang berkembang tidak lebih besar dibanding kabupaten tetangganya seperti Kudus yang didukung industri rokoknya.
Namun, salah satu fenomena yang menarik dari kampung saya ini adalah perkembangan bisnis hiburan malam yang kian menjamur. Padahal lima belas tahun lalu, ketika saya meninggalkan kota ini untuk merantau ke Bandung dan Jakarta, Pati tak lebih dari kota pensiunan yang senantiasa dilanda kesenyapan di atas pukul delapan malam.
Apa boleh buat, tampaknya modernisasi telah mengubah gaya hidup sebagian penduduk kota ini. Kabarnya Pati adalah kabupaten dengan industri hiburan karaoke terbanyak di Jawa Tengah. Dan konon industri ini sebagian adalah sekedar kamuflase dari bisnis plus-plus.
Tak ayal, pertentangan di masyarakat pun terjadi. Kaum agamawan yang dimotori ulama, santri dan pemuda Ansor, menggelar demonstrasi besar-besaran anti karaoke mesum. Hal ini memaksa pemda untuk melakukan operasi dan menutup kegiatan bisnis esek-esek ini.
Namun, sekali lagi uang adalah panglima. Meski ditutup dan ditentang, sepertinya itu tak menyurutkan niat pelaku bisnis. Beberapa di antaranya masih buka diam-diam. Bahkan menurut pengamatan saya, satu dua tempat sudah buka terang-terangan. Tentunya bisnis seperti ini akan senantiasa eksis sejauh masih ada permintaan dari konsumen.
Seorang teman SMA saya, sebutlah namanya Yadi, yang kini bekerja di sebuah hotel kecil di kota ini mengemukakan bahwa bisnis mesum di Pati seperti sebuah fenomena bawah tanah yang ditutup-tutupi atas nama moral, tapi tetap saja terjadi. “Ada kalanya saya disuruh mencarikan wanita panggilan untuk tamu-tamu di sini,” ujar teman saya saat kami berbincang-bincang.
Lama saya terdiam.
Saya tahu sekali siapa teman saya ini. Dulu waktu SMA dia orang yang alim dan rajin sembahyang. Bahkan saya kenal betul siapa pemilik hotel tempat dia bekerja saat ini. Tak lain adalah guru SMP saya yang dulu mengajar Pendidikan Moral Pancasila!
Mitra bisnis online, saya tak hendak menghakimi moralitas pelaku-pelaku bisnis ini. Saya hanya ingin menyampaikan kegundahan hati. Lepas dari prinsip ekonomi, itung-itungan bisnis, dan segala hal terkait hukum supply and demand, apakah kita tega menjalankan bisnis yang berdampak pada kerusakan masa depan bangsa? Atau uang memang lebih perkasa dibandingkan nilai-nilai kemanusiaan dan etika kemasyarakatan?
Malam itu saya sengaja menginap di hotel tempat Yadi bekerja karena rumah orang tua saya tidak punya lahan parkir memadai. Jadi tujuan utama saya menginap di hotel adalah untuk memarkirkan mobil. Dan malam itu saya menyaksikan bagaimana beberapa pasang pria wanita berselingkuh tanpa rasa bersalah. Ada juga istri simpanan yang sengaja “dititipkan” di hotel ini supaya tidak ketahuan.
Malam yang panas karena kamar yang saya tempati ini memang tak berpendingin. Saya mencoba memejamkan mata ketika dari kamar sebelah terdengar suara-suara yang barangkali tak pantas untuk saya ceritakan di sini.
Mendadak saya teringat dengan ucapan Bang Ali Sadikin saat masih menjabat Gubernur DKI Jakarta. “DKI ini tiap tahunnya tekor anggaran sekian milyar. Saya akan tutup itu tempat maksiat, tetapi para alim ulama harus siap mengganti uang yang saya terima dari sana. Apa sanggup? Kalau tidak ada yang sanggup, saya akan tetap buka itu tempat maksiat. Saya siap masuk neraka, dan kalian anggota DPRD serta alim ulama tidak usah ikut-ikutan ke sana. Biar saja soal neraka itu hanya menjadi tanggung jawab saya pribadi.”*
Malam kian larut dan suara-suara dari kamar sebelah sudah tak terdengar lagi. Saya masih terjaga dengan naluri yang sungguh terusik.
Salam Untung Nyata!
_________________________
Catatan : Ucapan Bang Ali Sadikin tersebut saya cuplik dari sebuah novel “Ritual Gunung Kemukus” karangan F. Rahardi. Semasa menjabat sebagai gubernur DKI, Ali Sadikin memang dikenal sebagai tokoh kontroversial. Salah satunya adalah ketika melegalkan hiburan malam dan perjudian di kawasan ibukota.
Artikel terkait :



21 komentar
Miris bener Mas. Jika dilihat dari sisi ekonomi untuk kepentingan pembangunan misalnya, memang usaha seperti itu menguntungkan. Akan tetapi, kita semua pasti paham bahwa suatu daerah, kota, ato negara yang dibangun dengan uang hasil maksiat, maka musibah akan selalu mendera daerah, kota, ato negara. Di sini memang perlu perjuangan dan pengorbanan dari alim ulama dan umara untuk bekerjasa dengan baik membangun dengan jalan yang benar
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
October 12th, 2010 at 9:02 pm
@Erdien | Ceritaku Suka-Suka, bener saya terharu dengan Anda, meski saya jarang ngeblog, tapi mas Erdien masih sudi berkunjung ke sini.
[Reply]
Erdien | Ceritaku Suka-Suka Reply:
October 12th, 2010 at 9:35 pm
@Budhi Kusuma Wardhana, Hehe… ada ikatan batin tersendiri dengan blog ini Mas. Walaupun blom ada update baru, saya sering kunjung ke sini sekedar baca-baca walaupun nggak komen. Blog ini pun selalu saya pantau dari blog saya yang satu lagi, blog Ceritaku Suka-Suka lewat RSS Feed
[Reply]
Nice Article, inspiring. Aku juga suka nulis artikel bidang bisnis di blogku : http://www.yohanwibisono.com, silahkan kunjungi, mudah-mudahan bermanfaat. thx
[Reply]
pikiran jernih di perlukan mas, meski ekonomi sulit tapi memang harus terus berjalan di jalan yang lurus. mungkin ini salah satu cara Tuhan menguji hambanya.
duit banyak dari cara ga halal atau sebaliknya..
Muhammad Arifin | Belajar Menjadi Affiliate Marketer´s last blog ..Training Facebook & Twitter GRATIS Step By Step
[Reply]
Setali tiga uang dengan kota Jombang. Meski sudah tersohor sebagai kota santri yang melahirkan sejumlah ulama, budayawan dan tokoh politik, tetap saja keberadaan bisnis esek-esek tidak bisa dibredel begitu saja.
Dalam hal ini kita mengenal hukum ekonomi, ada permintaan ada penawaran. Dimana ada orang butuh kepuasan seksual instan, maka akan mendapat respons pihak penyedia jasa tersebut. Fakta yang miris sekaligus tantangan bagi ulama dalam menegakkan agama di bumi.
Agus Siswoyo´s last blog ..Personal Marketing- Saatnya Mempromosikan Kemampuan Diri
[Reply]
[...] This post was mentioned on Twitter by Agus Siswoyo, Budhi K. Wardhana. Budhi K. Wardhana said: @untungnyata Bisnis Plus-Plus http://bit.ly/dCsdkO [...]
walah…. kata-kata Bang Ali diatas membuat saya merinding….
terlalu congkak untuk berani mengatakan berani untuk masuk neraka….. ckckckck.
mensejahterahkan masyarakat diatas bisnis maksiat…. :hiks
[Reply]
Itulah uang, membutakan semuanya jika kita ingin mendapatkan lebih banyak dan lebih cepat.
[Reply]
saya ngga sependapat dengan ucapan ali sadikin, kalo memang untuk kebaikan Insya Allah pasti akan dimakmurkan suatu kota dengan ijin-Nya
Abdul Hakim´s last blog ..Kerancuan Pemahaman Pluralisme di Masyarakat
[Reply]
ini sudah kasus lampau mas Budhi. di tempat asal saya (kendari dan makassar) juga mengalami hal serupa.
kalau saya perhatikan ini memang gejala kota kecil yang ingin frontal. haus hiburan dan cenderung nakal.
kalau dalam strategi politik, diperlukan kelompok-kelompok radikal untuk menggusur jenis bisnis yang tidak sesuai dengan norma agama itu.. kelompok inilah yang nantinya akan berbenturan
Fadly Muin´s last blog ..Kiat Happy Menghadapi Hujan Dan Kemacetan
[Reply]
Mas Budi, tksh utk kunjungan dan komentarnya di blog saya lehmannsblogg.com. Saya kebetulan mantan karyawan DKI dan mengalami masa pemerintahannya Ali Sadikin. Saya melihat upayanya mencari “solusi” keuangan Pemda DKI dari sisi positif bagi kemaslahatan masyarakat banyak, walau saya akui juga bahwa “cara”-nya yang kontroversial.
Saya salut mas Budhi atas artikel2-nya yg menarik dan bermanfaat.
Learning And Earning All About Online Business´s last blog ..ANDA BERJIWA PEGAWAI ATAU BERJIWA INVESTOR
[Reply]
ijin menyimak, siip lah, ditunggu nih artikel terbarunya
biro jasa´s last blog ..Perijinan Di Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo
[Reply]
Wuih gaya banget Ali Sadikin….berani ngomong mau masuk neraka segala….Pimpinan yang tidak ngerti agama mana bisa mimpin rakyat….

Masstyo´s last blog ..Marketing With Art
[Reply]
kayaknya sudah lama nggak nulis nih….
Agus Siswoyo´s last blog ..Berani Bermimpi
[Reply]
Udin Hamd | Blogger 2 Inchi Reply:
November 28th, 2010 at 9:50 pm
@Agus Siswoyo, iya nih gan. Sekedar mampir juga…
[Reply]
tanggung jawab moralnya ngeri mas.
Apalagi sama Tuhan. Mending bisnis yg (+) aja dan konstruktif membangun bangsa. That’s better.
[Reply]
masa depan bebas maksiat oke juga tuh……….
[Reply]
Terima kasih untuk tipsnya, saya mau coba semoga juga.
foredi gel purwokerto´s last blog ..Foredi Gel
[Reply]
Masa depan bebas maksiat …Maksudnya tu “Maka Anda Kita Selalu Ingat Akan Taubat”, Emange Gak ada bisnis lain yang lebih bagus to……Kasihan……
[Reply]
Wah ini informasi penting …… memang benar uang lebih kuasa dari kekuasaan …… penguasa lebih luluh terhadap uang daripada menanggung dosa bersama. Dasarnya karena yang menanggung orang banyak sehingga beban dosa sedikit. Beban 1000 jika ditanggung oleh orang 1000 berarti hanya menanggung dosa 1. Berbeda jika doa 1000 yang menanggung orang 10 berarti tiap orang menerima beban dosa 100.
He … he…
[Reply]
Beri Komentar