Tak Sekedar Bicara Bisnis…
Random header image... Refresh for more!

Bulan di Atas Singapura

Menyusuri angkasa biru dari Jakarta menuju Singapura. Menikmati dari ketinggian, gumpalan-gumpalan awan laksana kapas dan liuk-liuk sungai yang menyerupai Anaconda melata. Atau indahnya laut biru kehijauan, dihiasi kepalan-kepalan pulau kecil di sekujur Selat Karimata. Ah, betapa mempesona negeri kita.

Ketika Garuda yang saya tumpangi mendarat di Bandara Internasional Changi, saya disuguhi oleh sebuah kecantikan yang lain. Keindahan dengan sentuhan spektakuler modern, dipadu keteraturan dan ketertiban, serta kebersihan dan keasrian kota. Singapura yang tak lebih besar dari Provinsi DKI Jakarta ini memang menjulang secara teknologi dan peradaban dibanding negara-negara Asean lainnya.

changi airport

Meskipun dipenuhi belantara beton dengan gedung-gedung yang mencakar langit, tampaknya Singapura masih mencoba mempertahankan hijaunya pepohonan. Tak heran di kiri kanan jalan masih ditemui pohon-pohon rindang peneduh yang tampaknya sengaja dipertahankan untuk bersanding dengan arsitektur modern. Bahkan terlihat sekelompok burung gagak yang hidup damai di salah satu ruas jalan Orchard di jantung kota Singapura.

Kebetulan kemarau sedang memanggang kota yang didirikan oleh Thomas Stamford Rafles. Inilah saatnya bunga-bunga bougenville pink menghiasi sekujur kota. Saya sungguh takjub dengan warna bunga ini, karena di tanah air saya belum pernah menemukan kembang kertas species ini. Barangkali bunga ini hasil silangan baru.

Seorang teman secara berseloroh berkata, “Tahu nggak, bougenville itu indah karena memakai pupuk Pusri (Pupuk Sriwijaya).”

“O ya?” sahut saya.

“Iyalah,” jawabnya cepat. “Makanya jangan heran Pupuk di Indonesia langka, karena para spekulan memborong dan menjualnya di sini dengan harga mahal.”

“Ah, yang benar,” ujar saya tak percaya. Dia hanya tersenyum sambil angkat bahu.

Sayapun ikut tersenyum kecut. Tak peduli apakah ceritanya benar atau tidak, yang jelas petani Indonesia senantiasa kesulitan mendapatkan pupuk saat musim tanam tiba.

Bicara tentang negeri mini yang dulunya bagian dari Malaysia, tentulah tak lepas membincangkan kebersihan, ketertiban, dan keteraturan. Saking tertibnya, saya sempat ditegur lantaran berjalan kaki di pinggir jalan raya, bukan di trotoar. Ah, barangkali saya masih terbawa suasana Jakarta, yang nyaris tak pernah menyisakan jalur pejalan kaki. Demikian semrawutnya ibukota kita, trotoar pun diserobot motor yang bak raja jalanan atau tempat mangkal pedagang kaki lima.

orchard road di pagi hari

Namun, lihatlah jalan-jalan di Singapura, pejalan kaki adalah kaum yang sangat dimanja. Trotoar yang lebar, dilengkapi kursi tempat duduk-duduk, sekedar melepas lelah, atau demi menikmati secangkir kopi dan kudapan ringan.

Hari memang masih pagi, ketika saya benar-benar memanfaatkan kursi di sepanjang jalur pedestrian Orchard Road, sembari mengunyah dua potong risoles dan meneguk sebotol air mineral. Hmm, nikmat juga menikmati sarapan murah meriah di negeri orang,

Keteraturan juga tercermin dari fasilitas publik yang betul-betul terintegrasi satu sama lain. Alat transportasi umum dari MRT (mass rapid transport), bis kota, dan taksi terhubung satu sama lain. Lagi-lagi, jangan harap kita bisa berhenti di sembarang tempat layaknya Kopaja atau Metromini. Tarif yang dikenakan juga jelas. Makanya saya tenang-tenang saja naik taksi meskipun saya belum pernah ke tempat yang dituju. Percayakan saja ke sopir taksi. Tak perlu cemas karena tak ada pengemudi nakal yang main borongan atau dibawa berputar-putar supaya argo meternya bertambah.

Where will you go, Sir?” tanya sopir taksi waktu saya menaiki mobilnya di depan Hotel.

I don’t know, Pak.” jawab saya.

Sopir taksi itu mengernyitkan kening, menatapku aneh melalui kaca di atas kemudinya. Barangkali jawaban saya terlalu nyleneh atau aksen Inggris saya yang terbilang asing. Maklum saja karena saya menggunakan English berlogat Jawa.

Could you show me the interesting place?” lanjut saya. “This is the first time for me visiting Singapore.”

Marina Sands

Dia mengangguk, “How about Marina Sands?”

What’s that?”

You can play Casino over there.”

Wah, emang tampang saya, kayak penjudi kelas kakap? “Why do you offer me to go to there?” sahutku.

Do you from Indo?”

Saya mengangguk.

Most Indonesian tourist will go to casino,” ujar sopir taksi itu mencoba menjelaskan.

“Oya?”

Yes, Sir.”

Wow, barangkali ini alasan kenapa beberapa orang di tanah air mempunyai ide untuk membangun kasino seperti jaman Gubernur Ali Sadikin dulu. Jangan-jangan kalau saya ke sana bakal ketemu dengan anggota dewan yang sering diisukan main judi ke luar negeri.

No. I don’t interested to go there,” jawabku akhirnya.

Bukan apa-apa, saya jadi ingat cerita temen-temen di tanah air yang kalah main judi. Mereka pulang dengan muka kucel dan baju compang-camping. Kan nggak lucu kalau saya pulang ke tanah air cuma modal singlet dan kolor doang. :)

Merlion Park

***

Saya masih terkagum-kagum dan menikmati keelokan negeri tetangga ini ketika seorang teman lama tiba-tiba mengirimiku message melalui Yahoo Mesangger.

Apa kabar Singapore? Jakarta malam ini terang bulan lho.

Aku terkesiap. Buru-buru saya menuju jendela di kamar hotel berbintang lima tempat saya menginap. Mengintip sejenak dari balik gorden, menyaksikan bulan yang mempesona. Bentuknya bulat kuning cerah berpendar indah, melayang-layang di langit malam yang jernih.

Di sini juga bulan purnama, friend. Cerah sekali. Nggak seperti yang pernah saya lihat di Jakarta.

Beberapa saat kemudian temanku membalas.

Iya, Bud, Di sini bulannya pucat tersaput mendung.

Aku ingat sekali bulan pucat yang senantiasa menanungi Jakarta. Mungkin lantaran langit ibukota yang banyak terpolusi bensin ber-oktan rendah. Bahan bakar yang konon hanya ditujukan kepada golongan tidak mampu, namun tetap saja dimakan rakus oleh kaum elit dan berduit. Atau warna bulan di tanah air mencerminkan situasi negeriku yang carut marut.

Bukankah sekarang kemiskinan terjadi di mana-mana? Korupsi merajalela. Pengangguran semakin menggila. Angka kriminalitas meningkat. Tapi pemerintah nyaris tak peduli. Sementara elit politik hanya bisa bersilat lidah dan angkat bahu. Lantas, apa yang bisa diharapkan dari negeriku tercinta?

Saya terpaku menatap bulan indah di atas Kota Singapura yang bertabur cahaya. Inilah pendar-pendar yang melenakan banyak manusia. Begitu banyak orang terbuai dengan jutaan kesempatan dan masa depan yang ditawarkan negeri Singa ini.

Memang bulan yang menggantung di negeriku tak secerah di sini. Kadang sang dewi malam itu berwarna pucat menyaksikan kemiskinan dan penderitaan mayoritas rakyatnya. Sebentar bersemu kelabu karena mewakili kecongkakan dan kemunafikan pejabatnya. Atau merah membara laksana amarah dan darah yang tercurah akibat kekejaman dan kebengisan warganya.

Namun, baik atau buruk, saya tetap bangga dengan negeriku. Right or wrong is my country.

Halo, Bud, kamu belum tidur kan?

Sejenak kubaca message dari teman saya itu. Lalu kubalas lagi.

Teman, apakah warna bulan di Jakarta?

Saya menunggu beberapa saat dan teman saya membalas dengan segera.

Maksudmu?

Sejenak saya menelan ludah. Kesunyian terasa mengambang sebelum akhirnya kutulis sebuah pesan di Yahoo Messanger.

Aku rindu bulan merah jambu di Jakarta…

Saya tersenyum sambil kumatikan Ipad. Malam ini saya harus segera tidur karena besok pagi harus terbang ke tanah air.

Ya. Masih banyak yang harus kulakukan untuk Indonesia yang lebih baik.

Salam Untung Nyata!

Artikel terkait :
  1. Tak Ada Kesempatan Kedua
  2. Kanan Kiri Oke
  3. Bisnis Gaya Jogo Bonito
  4. Twittermu Harimaumu!
  5. Bisnis Online = Bisnis Anti Korupsi

16 komentar

1 roby { 14/09/11 at 2:57 pm }

:sip: luar biasa.. kapan ya saya bisa kesana..
roby´s last blog ..Belajar AutoCADMy ComLuv Profile

[Reply]

2 hanif mahaldi { 14/09/11 at 6:29 pm }

bener-bener pengen kesana… :sip:

[Reply]

3 bed cover murah { 28/09/11 at 9:19 pm }

:sip:
thank you very helpful and really good info

[Reply]

4 Agus Siswoyo { 05/10/11 at 9:40 am }

Jadi, kebanyakan orang Indonesia yang berkunjung ke Singapore untuk main judi yah? Ckckckck…
Agus Siswoyo´s last blog ..Gratis Norton Internet Security 2011 Untuk 2 Komentar TerbaikMy ComLuv Profile

[Reply]

Budhi K. Wardhana | UntungNyata!com Reply:

@Agus Siswoyo, ya begitulah… mas…

[Reply]

5 Erdien { 08/10/11 at 10:30 am }

Subhanallah…
Tulisan Mas Bud tetap mengagumkan.
Tulisan yang mengalir dan membuat saya seakan ikut tercebur dalam suasana itu :)

Salam Sukses Mas Bud,

Erdien
Erdien´s last blog ..Penggunaan Frase “Sebagai Berikut”My ComLuv Profile

[Reply]

Budhi K. Wardhana | UntungNyata!com Reply:

@Erdien, wah pujiannya membuat saya tersanjung mas…

Saya lagi suka travelling nih, tunggu tulisan-tulisan saya berikutnya…

[Reply]

Erdien Reply:

@Budhi K. Wardhana | UntungNyata!com, Siip Mas. Tulisan Mas Bud selalu saya nantikan :)
Erdien´s last blog ..Asyik Juga Affiliasi dengan KunciHostMy ComLuv Profile

[Reply]

6 Blog Bisnis Online { 24/10/11 at 1:26 pm }

Waw, keren banget nih agan jalan-jalan ke singapura. Jadi pengen, btw thanks banget buat infonya. bisa jadi guiden kalo nanti saya ke sana..
Blog Bisnis Online´s last blog ..Tempat Jual Beli Paypal TerpercayaMy ComLuv Profile

[Reply]

7 mencegah ejakulasi dini { 11/11/11 at 2:33 pm }

Amazing artikel…. Semoga saya bisa praktekan tipsnya dan berhasil
mencegah ejakulasi dini´s last blog ..Foredi GelMy ComLuv Profile

[Reply]

8 roker { 27/12/11 at 1:08 pm }

ini kapan waktu terjadinya ya mas?

[Reply]

9 home { 27/12/11 at 1:09 pm }

sangt bagus articelnya

[Reply]

10 travel { 27/12/11 at 1:10 pm }

invormasi travel

[Reply]

11 Restsindo-hty { 29/12/11 at 9:56 pm }

Weleh weleh hebat bro bisa jalan jalan ke Singapura …..
bawa oleh oleh apa bro …..

[Reply]

12 Ajay { 06/01/12 at 9:13 pm }

Luar biasa senangnya

[Reply]

13 Indra Kurniawan { 13/01/12 at 1:23 pm }

mantab artikelnya mas.
sekalian oleh olehnya dong… :D

:sikut:

[Reply]

Beri Komentar

:hihi: :hiks: :melet: :nangis: :ngakak: :puyeng: :sip: more »

CommentLuv Enabled
[+] kaskus emoticons nartzco