Hujan Sepanjang Dago

Berbisnis secara bijak harus senantiasa peduli pada kelestarian lingkungan. Bagaimana dengan Anda?
Lebih dari lima belas tahun lalu, saat saya masih berseragam putih abu-abu, saya sempat membaca sebuah cerita pendek di Majalah Remaja Aneka Ria. Cerita itu memang bukanlah cerita terbaik di majalah yang punya semboyan sebagai Majalah Cerita Remaja. Tapi entah kenapa, cerita itu tak cuma menyita sebagian perhatian saya. Lebih dari itu, cerpen tersebut mampu memberikan inspirasi untuk sebuah jalan di masa depan.
Cerpen itu berjudul “Hujan Sepanjang Dago”.
Mungkin tak ada yang istimewa dari cerita tersebut. Bahkan penulisnya dan tahun edisi majalahnya pun saya sudah lupa. Ketika saya coba bongkar-bongkar ke tumpukan majalah-majalah lama di rumah saya di kampung, saya tak lagi menemukannya. Ya, barangkali ibu saya sudah menjualnya ke tukang loak keliling.
Saya memang bukan pengarsip yang baik. Bahkan untuk tulisan-tulisan saya yang tersebar di beberapa media pun, saya sudah tidak punya arsipnya lagi. Sayang memang.
Oke, kembali ke cerpen tadi. Pertama kali saat saya sekilas membacanya, saya memang tidak mendapatkan apa-apa. Cerpen itu teramat biasa. Bercerita tentang seorang gadis yang sudah putus dengan kekasihnya dan kembali mengenang saat-saat berpacaran. Dari sebuah toko buku besar di ujung bawah Jalan Dago, cerita itu bermula.
Si gadis membayangkan nostalgia saat mereka berdua mencari buku, bercanda, dan berdebat untuk hal yang tidak penting. Lalu, mereka berdua berjalan di tengah hujan menuju perhentian bis kota yang membawa mereka menembus Dago yang diguyur gerimis.
Begitulah, kenangan itu dituliskan dalam sebuah cerita yang sangat romantis, tanpa harus dibumbui kalimat-kalimat cengeng yang mendayu-dayu.
Setelah saya membaca untuk kedua kalinya, saya tiba-tiba terbawa pada suasana yang sungguh berbeda. Penulis itu telah menghipnotis saya untuk merasakan dinginnya Dago saat diguyur hujan, rimbunnya pepohonan di sepanjang jalan, keindahan yang menyertai titik-titik air yang jatuh, juga romantisme sepasang kekasih yang berbalut gerimis.
Pengalaman itu tiba-tiba menginspirasi saya. “Saya harus pergi ke Bandung! Merasakan semua itu…”
Demikianlah, suasana cerita itu begitu kuat tertanam di benak saya. Membuat saya harus belajar mati-matian guna menembus ribuan pesaing UMPTN. Ya, saya harus kuliah di Bandung! Di kampus yang tak jauh dari kawasan Dago yang inspiratif. Meski untuk itu, saya harus mengabaikan nasehat Bapak yang menginginkan saya kuliah di Kedokteran Umum Universitas Diponegoro, yang tak jauh dari kampung saya.
Dan alhamdulilah, nasib baik memang berpihak pada saya. Mulai tahun 1994 saya bisa kuliah di Institut Teknologi Bandung. Kegembiraan yang membuncah. Saya akhirnya kuliah di Institut yang konon adalah perguruan tinggi teknik terbaik negeri ini.
Namun yang lebih penting, saya bisa melewati kawasan Dago setiap hari. Saya dapat menuntaskan kerinduan akan suasana nostalgik sepanjang jalan yang digambarkan dalam cerpen itu.
***
Jalan Dago (kini bernama Jalan Ir H Djuanda) memang bukan satu-satunya jalan yang terkenal di kawasan Bandung. Masih banyak jalan lain seperti Braga, Cihampelas, Cipaganti, Dipati Ukur, Cibaduyut, yang tentu punya kekhasan masing-masing. Tapi bicara Bandung, orang pasti tak pernah lupa dengan jalan Dago yang legendaris.
Menurut Wikipedia, Dago berasal dari kata dalam bahasa Sunda “dagoan” yang artinya “menunggu”. Pada zaman dahulu di masa penjajahan Belanda, penduduk di daerah utara Bandung memiliki kebiasaan untuk saling menunggu untuk pergi bersama-sama ke kota, yang mana pada masa itu, rute yang ditempuh menuju kota melewati daerah yang masih tergolong sepi dan rawan binatang buas, terutama di daerah hutan di sekitar terminal Dago sekarang.
Pada tahun 1900-1914, pemerintah Hindia Belanda memulai pembangunan di daerah Bandung. Pembangunan di daerah Dago, dimulai dengan pembangunan rumah peristirahatan milik Andre van der Brun pada tahun 1905. Pada saat ini bangunan ini masih berdiri dan berada bersebelahan dengan Hotel Jayakarta.
Sejak lama Dago dikenal sebagai kawasan yang menarik untuk dikunjungi. Dago menjadi salah satu magnet menarik banyak pengunjung dari luar kota. Tidak hanya pelancong dari luar kota, banyak warga Bandung pun melihat Dago sebagai kawasan menarik untuk dikunjungi.
Entah sejak kapan kawasan Dago selalu ramai dikunjungi, terutama pada akhir pekan. Banyak warga Bandung dan pelancong dari luar kota, baik tua maupun muda, jalan-jalan atau sekadar nongkrong pada malam Minggu. Mulai dari perempatan Dago (Jalan Ir H Djuanda), Jalan LL RE Martadinata, Jalan Merdeka, hingga kawasan Terminal Dago selalu ramai.
Selama kuliah di Bandung, saya selalu menyempatkan seminggu sekali menyusuri sepanjang Dago dengan berjalan kaki atau mengayuh sepeda. Sebagai mahasiswa kere dan jomblo, maka tiap malam minggu sehabis kuliah, saya selalu sendirian menghabiskan waktu di Gramedia, membaca buku sebanyak-banyaknya. Lalu, sesudah itu saya akan pulang ke tempat kost dengan sepeda atau berjalan kaki menyusuri ruas-ruas trotoar Dago.
Sengaja saya tidak naik Angkot karena ingin merasakan atmosfer Dago yang sebenarnya. Apalagi, saat malam minggu menjelang, ketika beberapa anak muda memanfaatkannya sebagai tempat nongkrong, pacaran, atau sekedar kumpul.
Di sana puluhan kelompok motor dan mobil secara santun memarkir kendaraannya sembari bercengkerama menghabiskan malam minggu. Saat itu kelompok tersebut mampu mewarnai dan menjadi ikon kota Bandung. Jangan bandingkan dengan genk motor sekarang yang identik dengan kekerasan dan kriminalitas.
Juga beberapa anak muda kreatif yang memamerkan kemampuan bermusiknya. Saya selalu melihat beberapa anak muda memainkan alunan musik SKA dari terompetnya di depan SMA Negeri 1 Bandung. Tak jauh dari situ, beberapa stasiun radio khas anak muda, seperti OZ dan Ardan, menempatkan mobil yang disulap menjadi studio sekaligus diskotek berjalan.
Di mata saya, satu dasawarsa lalu Dago adalah sebuah kawasan pemukiman. Meskipun di sana sudah ada tempat komersil, seperti Rumah Sakit Borromeus, Hotel Royal Dago, Gelael (sekarang Super Indo), Dunkin Donuts, Wendys, beberapa Sekolah, beberapa Bank Swasta (BCA, Danamon, Citibank, Standard Chatered), tapi rumah-rumah tua sebagai tempat tinggal tetaplah dominan. Dengan dipagari rangkaian Pohon Agantis (Damar) yang menjulang di kiri-kanan, memang menjadikan Dago sebagai tempat yang teduh dan eksotik.
Begitulah, ternyata saya memang menemukan nuansa keindahan yang diceritakan dalam cerpen tersebut. Bahkan saya juga menemukan romantisme serupa ketika suatu senja saya mengajak pacar saya, yang kini menjadi istri saya (akhirnya saya bisa menemukan calon pendamping hidup, setelah beberapa kali ditolak, hehehe), untuk menyusuri Dago di tengah gerimis.
Ya, kenangan yang begitu indah…
***
Lebih dari sepuluh tahun berlalu dan minggu kemarin saya kembali lagi ke Bandung. Sambil membuang kebosanan karena harus menunggu istri yang belanja di salah satu factory outlet, saya mencoba menyusuri sepanjang Dago mengais sisa-sisa kenangan semasa kuliah.
Tapi, tampaknya Dago memang betul-betul telah ber-revolusi. Saya tak lagi menemukan Dago sebagai suatu kawasan tempat tinggal. Setiap jengkal lahan menjadi tempat komersialisasi. Factory Outlet menjamur di mana-mana. Bangunan-bangunan tua dengan arsitektur eksotik digantikan dengan bangunan modern demi tujuan bisnis. Kebisingan di sana-sini. Apalagi ketika musim liburan dan akhir minggu, di mana Dago disesaki mobil-mobil berpelat ibukota.
Saya teringat dengan sebuah tulisan Jejen Jaelani, salah satu pemerhati tata ruang dan lingkungan kota Bandung,
“Penghilangan rumah-rumah tua atau modifikasi Dago dari kawasan konservasi ke kawasan komersial dapat digolongkan ke dalam kekerasan, lebih spesifik kekerasan yang dibiarkan dan dimediasi. Sebagai kekerasan yang dibiarkan, modifikasi ini dianggap sesuatu yang wajar oleh pemerintah kota dan dibiarkan terjadi. Padahal, modifikasi Dago sudah pasti diketahui pemerintah sebagai perusakan kawasan konservasi.”
Lalu, siapa yang salah?
Mitra bisnis online, pengalaman kawasan Dago ini membuat saya bertanya, apakah demikian kuatnya magnet materialisme hingga mengesampingkan kelestarian alam dan budaya. Bagaimana dengan Anda? Apakah anda mampu berbisnis dengan mengelola lingkungan secara bijak?
Tak perlu yang muluk-muluk. Sebagai pebisnis online, apakah Anda cukup bijak untuk menggunakan listrik dan internet seperlunya? Menghemat energi adalah bagian dari menjaga kelangsungan sumber daya alam. Begitu juga apakah Anda menggunakan kertas sehemat mungkin? Bayangkan berapa batang pohon yang harus ditebang untuk memenuhi kebutuhan kertas dunia? Dan yang tak kalah pentingnya adalah penghematan bahan bakar minyak, hasil tambang, dan gas bumi. Sebab, hasil alam ini bukanlah warisan dari nenek moyang, tapi pinjaman dari anak cucu kita.
Saya menghela nafas. Berharap mudah-mudahan saya masih bisa menemukan kembali suasana nostalgia dari Dago yang terdahulu. Karena bagi saya Dago tak cuma seruas jalan. Dia adalah sebuah inspirasi yang mampu menyemangati dan merubah jalan hidup saya. Bermula dari sebuah cerita tentang suatu jalan di Kota Bandung, ternyata bisa membuat saya menjadi “orang” seperti sekarang ini.
Hujan deras membuat genangan air kian meninggi. Kemacetan di Dago semakin menjadi-jadi. Tampaknya genangan itu tak bisa cepat terbuang. Sungai kecil di pinggir Jalan Cikapayang yang biasanya menjadi tempat buangan menuju Sungai Cikapundung telah ditimbun dan berubah menjadi beton-beton angkuh penyangga jalan layang. Inikah pembangunan yang memperhatikan lingkungan?
Sekali lagi saya menarik nafas panjang. Entah kenapa, mendadak saya rindu dengan sungai kecil itu…
Salam Untung Nyata!
_______________________
Catatan :
1. Artikel ini saya tulis ulang dari blog pribadi saya dengan penyesuaian seperlunya.
2. Foto di atas saya ambil dari sebuah Factory Outlet di kawasan Dago.
Artikel terkait :



20 komentar
Mengenang masa lalu memang sangat mengasikkan, ingin sekali kita memutar kembali jarum jam menuju waktu itu, namun waktu ternyata tak pernah berhenti apalagi kembali, sehingga sebisa mungkin kita mengisi waktu seindah2 indahnya, agar kita bisa membagi keindahan saat ini kepada anak cucu kita. Salam kenal ya mas…
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
May 30th, 2010 at 8:14 pm
@joko santoso, salam kenal juga, mas! Eh, apa blognya sudah diupdate mas?
[Reply]
joko santoso Reply:
June 1st, 2010 at 10:57 am
@Budhi Kusuma Wardhana, udah mas… baru pemanasan lagi, trim’s
joko santoso´s last blog ..S p a m
[Reply]
Jadi
kalo ingat masa lalu..
Kalo listrik dan peralatan2 lainnya lia rasa pebisnis sudah memperhitungkannya karena itu berkaitan dengan cost…
nahh kalo mengenai lingkungan lia jadi ingat dengan CSR…

Banyak pebisnis yg masih enggan melakukan ini krn secara finansial tidak mendapat masukan malah keluar uang..
namun lia yakin pebisnis juga punya sisi kebaikan….jadi jangan dikesampingkan..
Maaf pak kalo jawabannya gak nyambung
delia´s last blog ..Makna Gaya Puma
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
May 30th, 2010 at 8:17 pm
@delia, masih nyambung kok… saya sebenarnya ingin senggol dikit masalah CSR, tapi barangkali di lain waktu.
[Reply]
ke bandung jarang banget, mana dago juga gak ngerti. hehe, tapi emang bandung dinginnya menyenangkan,

hanifilham´s last blog ..7 Bulan terlewati, Posting Teramai di Sini?
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 1st, 2010 at 9:38 pm
@hanifilham, ada lho mas yang lebih menyenangkan…
[Reply]
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 1st, 2010 at 9:39 pm
@cepot, jadi inget waktu ospek dan disuruh push up di Jalan Ganesha yang banyak sisa kotoran kuda. Untung sudah disuntik anti tetanus.
[Reply]
thnx untuk blog yang menarik
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 1st, 2010 at 9:40 pm
@cepot, thanks buat kunjungannya.
[Reply]
Saya justru kangen berat dengan kebun binatang Surabaya (KBS). Tempat saya merenung saat baru menjejakkan kaki di Surabaya. Ya, KBS. Kalau anak muda seusia saya biasanya menghabiskan minggu pagi di lapangan kodam yang ramai dengan aneka dagangan PKL, saya justru asyik menulis lirik sederhana di bawah pohon beringin dekat kandang beruang.
Waktu itu belum punya laptop. Hanya berbekal sebuah buku tulis, pulpen dan sebungkus roti sisir saya menghabiskan waktu dari pagi hingga sore hari terbenam. Sungguh pengalaman yang membuat saya bersyukur atas pencapaian hari ini.
Saat saya baca lagi syair-syair kelana tersebut, saya baru sadar. Saya telah mencapai sebagian besar impian yang terekam lewat tulisan. Dari puluhan target yang saya canangkan, saya sudah mewujudkan sembilan puluh persen.
Saya bertanya-tanya. Masihkan pohon beringin KBS masih menyisakan kekuatan magis bagi hidup saya? Kalau ya, saya masih ingin kembali ke sana dan menulis ulang impian-impian saya untuk masa depan.
Agus Siswoyo´s last blog ..Menilai Blogger Sebagai Satu Paket Utuh
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 4th, 2010 at 9:21 pm
@Agus Siswoyo, dituliskan kisahnya mas.
[Reply]
Agus Siswoyo Reply:
June 5th, 2010 at 7:01 am
@Budhi Kusuma Wardhana, hehehe…. kesannya jadi gimana gitu…


Agus Siswoyo´s last blog ..Menilai Blogger Sebagai Satu Paket Utuh
[Reply]
masih teringat masa kecil, saat bisa menaiki bemo mengitari gedung sate, melewati kebon kelapa sampai ke buah batu, atau saat kuliah kongkow2 di braga dan nonton bisokop di majestik. semuanya menjadi memori indah yang tidak akan terulang.
aas maesyanurdin´s last blog ..Jangan Pernah Menyesal
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 4th, 2010 at 9:22 pm
@aas maesyanurdin, ternyata banyak yang punya memori di bandung…
[Reply]
hem.. saya baru punya kenangan study tour sd dan study smp mas..
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 4th, 2010 at 9:22 pm
@Arief Rizky Ramadhan, ke mana study tournya?
[Reply]
wah, kenangan saya dengan dago malah jalan kaki di siang bolong dari cikapundung hingga dago di thn 1989, mencari komponen elektronik dan toko komputer. Enggak berani naik angkot karena enggak tahu rutenya. Kalau sudah lewat mah termasuk kenangan manis juga tuh mas.
suarakelana berbisik´s last blog ..Beruntunglah Anda Kini Telah Ada Blog
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
June 4th, 2010 at 9:23 pm
@suarakelana berbisik, mungkin dulu dago gak terlalu panas di siang hari. Sekarang?
[Reply]
Beri Komentar