Pedagang Profesi Rendahan

Coba tanya ke anak-anak, apa cita-cita mereka? Pasti jawaban favorit adalah menjadi dokter, insinyur, pilot, polisi, atau presiden. Jarang mereka menjawab akan jadi pedagang. Sungguh burukkah profesi itu di mata para anak?
Sewaktu SD dulu banyak teman saya dari golongan Tionghoa yang orang tuanya berprofesi pedagang. Dari pemilik toko kecil-kecilan hingga pedagang kacang garing gede-gedean. Salah satunya adalah Mulyo Santoso, temen sekelas saya yang saat ini menjadi eksekutif di perusahaan keluarganya Garuda Food.
Herannya ternyata sebagian besar dari teman-teman kecil saya itu tidak berkeinginan menjadi pedagang seperti orang tuanya. Mereka ingin sekolah sepandai-pandainya supaya meraih profesi terhormat versi mereka, seperti dokter, insinyur, pilot, dan presiden. Hanya segelintir teman yang memilih menjadi pedagang alias businessman. Itupun dengan alasan yang sungguh naif. “Otak saya gak pinter, Bud. Paling aku cuma bisa nerusin usaha papi jaga toko…”
Ya begitulah gambaran hampir seperempat abad yang lalu. Dan tampaknya masyarakat di sekitar saya saat itu juga mengamini hal serupa.
Hampir sepuluh tahun kemudian ketika saya kuliah di ITB, muncul anekdot di antara mahasiswa dan dosen tentang tiga tipe lulusan ITB. Kategori pertama adalah lulusan yang pandai, genius, dan berpredikat minimal cumlaude. Biasanya mereka akan menjadi peneliti, dosen, atau pakar keilmuan.
Tipe kedua adalah mahasiswa yang biasa-biasa saja dan lulus dengan predikat sedang-sedang saja. Biasanya alumni seperti ini lebih memilih profesi sebagai karyawan perusahaan atau profesional.
Kategori terakhir yaitu mahasiswa berotak jongkok. Yang lulusnya pun harus dikatrol kiri kanan dan nyaris saja tiang gantungan drop out menghabisi mereka. Nah, tipe lulusan seperti inilah yang bakal jadi pengusaha alias pedagang. Atau paling pol jadi politisi dan birokrat.
Waduh! Saya tak tahu apakah kualitas otak para saudagar dan politisi lulusan ITB semisal Aburizal Bakrie, Arifin Panigoro, Fadel Muhammad, Hatta Rajasa, Laksamana Sukardi seperti anekdot ini. (Maaf bapak-bapak, jangan terlalu diambil hati ya lelucon ini. hehehe…
)
Moral cerita ini tampaknya mirip dengan pengalaman masa kecil saya. Ternyata pandangan masyarakat belum berubah. Para pedagang alias usahawan atau bisnisman atau saudagar masih dianggap profesi kelas dua. Hanya orang-orang gagallah yang pantas menyandang profesi sebagai pengusaha.
Padahal sejarah telah membuktikan bahwa kaum pedaganglah yang mendominasi posisi teratas orang terkaya di dunia dan tanah air. Banyak cerita pula orang-orang yang kepepet jadi pedagang lantaran berbagai hal mampu berubah menjadi pribadi sukses.
Di samping itu, ilmu dagang alias bisnis bukanlah ilmu yang murah. Coba lihat berapa juta rupiah yang harus Anda keluarkan guna meraih gelar MBA atau mengecap pendidikan di sekolah bisnis terbaik seperti Harvard?
Mitra bisnis online, ingatlah kaum pedagang dan usahawan adalah tiang penyangga bagi perekonomian bangsa. Jika tak ada mereka, negeri ini tak mungkin tegak berdiri.
Jadi, apakah kita masih meremehkan profesi pedagang?
Salam Untung Nyata!
_____________________
Catatan : Ilustrasi foto diambil dari http://www.fpsi.or.id/images/foto/PEDAGANG-KAYU-BAKAR-by-Amadeus-Budiharsono.jpg
Artikel terkait :



37 komentar
mas sedot pertamax dulu ya


Ahmad Subandono´s last blog ..Di Persimpangan Line
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 15th, 2010 at 6:04 pm
@Ahmad Subandono, monggo mas!

Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
lha kalo gak ada yang jual domain lan hosting terus gimana coba!?
jadi profesi apapun dan dimanapun saling melengkapi.. dan yang paling bermental juara adlah para pedagang, karena 9 dari 10 pintu rejeki itu datangnya dari perdagangan..ga’ percaya? Buktikan saja!!
Ahmad Subandono´s last blog ..Di Persimpangan Line
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 15th, 2010 at 6:15 pm
@Ahmad Subandono, akur mas! Dalam perspektif masyarakat tradisional yang namanya pedagang itu cuma buka toko, tunggu pembeli, lalu jual barang. Ini beda dengan perspektif perdagangan modern, di mana butuh plan, marketing, negosiasi, pembukuan, dan kalau perlu profit sharing.

Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
wah… semua kembali kepada perspektif mas. saya sendiri masih berdagang. cuma caranya memanfaatkan teknologi. sayapun lahir dari keluarga pedagang. kami bangga atas itu.
kalau ga ada pedagang. perekonomian ini akan lumpuh

fadly muin´s last blog ..Efek Kritik Terhadap Motivasi Diri
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 15th, 2010 at 6:19 pm
@fadly muin, Mantap nih mas Fadly!
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
kalo g ada pedagang ga bisa jajan dong
.. pedagang ebook gimana ? 
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 15th, 2010 at 6:28 pm
@Arief Rizky Ramadhan, aduh adik kita satu ini…
boleh jadi pedagang ebook mas, asal bukan ebook kacangan.
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
Arief Rizky Ramadhan Reply:
February 16th, 2010 at 7:06 pm
@Budhi Kusuma Wardhana, wkwkwkwk oke oke
[Reply]
kayaknya pembagian tipe mahasiswa di atas ada benarnya juga, saya termasuk tipe yang otaknya pas2an, skrg jadi pegawai.. tapi anehnya ada hasrat untuk ‘turun kasta’ jadi pedagang … mungkin terpengaruh Kiyosaki .. (kuadran E, S, B, I) nah kalau skrg di kuadran E (pekerja) pengennya ke kuadran B (pengusaha) dan kalau sudah mantap pindah ke kuadran I (Investor) dimana ada kebebasan waktu dan kebebasan finansial dsitu!! Sukses selalu!!
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 16th, 2010 at 10:57 am
@evan, maju terus mas!
[Reply]
padahal kalau menurut Kiyosaki dari Pegawai ke Pengusaha sebenarnya bukan ‘turun kasta’ . . . tapi sebenarnya naik tingkat
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 16th, 2010 at 10:59 am
@evan, mas tinggal cara pandang masing-masing orang. Kalau lihat dari kemungkinan pendapatan finansial, itu naik tingkat. Tapi, jika dilihat dari struktur sosial, mungkin itu jadi turun kasta. Makanya banyak teman-teman saya memilih kerja kantoran hanya untuk mendapatkan status sosial semata.
[Reply]
Gimana anekdot yg begini : yg lulus cumlaude jadi mgr RnD, yg lulus memuaskan jadi mgr tek produksi, yg lulus biasa jadi mgr marketing, nah yg gak lulus jadi juragannya.

Kayaknya sistem pendidikan kita juga perlu dipertanyakan mas….
suarakelana´s last blog ..Bisnis Dan Anak
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 15th, 2010 at 1:42 pm
@suarakelana, Bener mas. Ceritanya berlanjut : Yang lulus cumlaude jadi peneliti, ilmuwan, dan hidup miskin dari gaji yang tidak seberapa. Yang biasa-biasa saja jadi profesional, mengabdi pada orang tapi tetep pensiun miskin. Yang paling bodo, jadi pengusaha, meraih kebebasan finansial dan pensiun dengan tetap kaya raya.
Jadi meski profesi buangan, tetap jadi juragan dari yang pinter-pinter itu…

Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
Berdagang? Betul kata Mas Ahmad S. tuh, pintu rezeki terbanyak ada di sana. Namun, memang masih banyak masyarakat yang memandangnya “rendah”, kecuali jika pedagang itu sudah bener-bener sukses, baru deh “dipandang berbeda”. So… parapedagang harus bisa membuktikan bahwa berdagang itu profesi yang patut “tidak dipandang sebelah mata”
Vidzas Erdien´s last blog ..Ikhlas dalam Kerja
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 15th, 2010 at 6:31 pm
@Vidzas Erdien, jadi kalau sukses baru dipuji ya mas? wah, itu mah memang lagu lama masyarakat kita.
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
Mungkin karena kata “pedagang” sendiri secara implisit memiliki arti yg cukup rendah, seperti kata “wanita” dan “perempuan”, sehingga untuk versi anak kecil, yg dianggap cita-cita itu adalah, suatu asa yg cukup besar yg bisa memotivasi seorang anak u/ meraih prestasi yg setinggi-tingginya. Esensi cita-cita itu sndiri pun u/ seorang anak kecil jg tdk mngkn berpikir ttg posisi, gaji, fasilitas dan status sosial lainnya. Sehingga, jika dirasa itu bs memotivasi karakter dan pola pikir si anak, not too big problem, i think.
firman´s last blog ..Kata Bijak Hari Ini
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 16th, 2010 at 11:02 am
@firman, wah ini komentar dari sudut pandang psikologis anak. Good coment mas!
[Reply]
Wah mendalam…. saya dari pegawai bank beralih ke pedagang nih….
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 16th, 2010 at 11:01 am
@dafiDRiau, saya mah belum berani meninggalkan kuadran E dan tetap memilih hidup di dua dunia… Salut buat keberaniannya mas!
[Reply]
Buat Sy kalo mmg mau fokus terjun diBisnis, mending nyemplung sekalian. Alhmdulillah Sy merasakan langsung Kebebasan finansial itu adanya memang dgn cara wiraswasta. Bukan sebagai orang gajian.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 18th, 2010 at 11:32 am
@Rafi, bagi-bagi ilmunya mas!
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
Pertanyaan ini persis yang dibimbangkan Ciputra saat ia mau mendirikan sekolah pencetak pengusaha diIndonesia, karena biasanya negara maju pasti memiliki 20% warganya yg berprofesi sbg pengusaha, tapi indonesia malah masih 2% saja. Smoga kelak banyak lahir pengusaha2 muda yang justru lahir dari tangan2 pengusaha atau bahkan non pengusaha lainnya
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 18th, 2010 at 11:34 am
@Aries Kusuma | Tipssukseskarir, mudah-mudahan seperti itu mas. Semakin banyak pengusaha akan meringankan beban pemerintah untuk mengurangi angka pengangguran.
[Reply]
Nabi Muhammad pun seorang pedagang sebelum menjadi Rasul Allah.
Yang penting kita yang selalu berusaha mengikuti tuntunan agama, apapun pekerjaannya dan baik. Harus di hargai sepenuh hati.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 18th, 2010 at 12:11 pm
@A9YnD1LV3R, tul mas. Semoga norma-norma itu senantiasa menjadi bagian dari keseharian kita.
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pedagang Profesi Rendahan
[Reply]
Selama ini jadi pedagang ato pengusaha masih dipandang rendah, orang tua kita masih memandang profesi sebagai pegawai terutama PNS sebagai profesi terhormat dan terpandang di masyarakat. Padahal kenyataanya di jaman sekarang ini pengusahalah yang banyak memberi kontribusi bagi perekonomian bangsa. Postingan yang menarik Mas.
Salam sukses.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 19th, 2010 at 6:34 am
@Sugiana Hadisuwarto, thanks mas!
[Reply]
Setiap orang mempunyai peran berbeda-beda dalam menyumbang pembangunan bangsa. Sesuai porsinya masing-masing. Selama masih dalam koridor norma-norma yang berlaku, tidak ada sebutan profesi hina.
Agus Siswoyo´s last blog ..Remaja Indonesia
[Reply]
Setiap orang mempunyai peran masing-masing dalam menyumbangkan pembangunan bangsa. Asal masih sejalan dengan norma-norma yang berlaku di masyarakat, tidak ada yang namanya profesi hina.
Mas, sekalian aku ijin pinjam foto profinya.
Agus Siswoyo´s last blog ..Remaja Indonesia
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 19th, 2010 at 6:33 am
@Agus Siswoyo, baru nyadar kalo fotoku nongol di tempatnya mas Agus…
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Hanya Ada Satu Kata, Lawan!
[Reply]
Makanya mas saya pengen jadi pedagang dan pengusaha, demi mencapai mimpi, terpaksa saya “makar” dari jurusan kuliah saya dulu.
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 19th, 2010 at 6:32 am
@Andrik Sugianto, makar positif ya?

[Reply]
benar Mas, kita ga boleh merendahkan pedagang . semua orang pun kegiatannya berdagang .
btw, Mas masuk tipe yang mana nih di ITB ? Hehehe
Thanks
Imamz
Imamz´s last blog ..Kegunaan tukeran link
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
February 19th, 2010 at 6:32 am
@Imamz, mas saya masuk tipe kedua aja deh…
[Reply]
[...] 1. Suarakelana untuk komentarnya terhadap Artikel “Pedagang Profesi Rendahan” [...]
Beri Komentar