Tak Sekedar Bicara Bisnis…
Random header image... Refresh for more!

Pilihan-Pilihan Pelik

Laki-laki bernama Jimmy itu berdiri di depan saya. Raut mukanya begitu memelas dengan tatap mata memohon.

“Ayolah Bud, bantu aku?”

Saya diam. Mata saya menelusuri wajahnya yang kuyu. Saya diguncang rasa trenyuh dalam hati.

“Apa yang bisa aku bantu?” tanya saya.

Dia menunjukkan hasil tugas kuliah Analisis Algoritma yang tadi pagi aku bagikan. Dia tersenyum getir. “Aku tak mungkin lulus dengan nilai segini.”

Saya amati lembar tugasnya. Nilai yang tertera di situ adalah tulisan tangan saya setelah semalaman aku memeriksa tugas para mahasiswa.

“Nilai yang aku berikan ini sesuai dengan hasil tugas kamu.”

“Aku tak mungkin lulus…” Dia mengulangi ucapannya.

Laki-laki ini menatap saya penuh harap. Kami memang berteman akrab. Meskipun dia dua angkatan di atas saya, tapi karena dia banyak mengulang mata kuliah, maka saya sering kuliah bareng dia. Bahkan untuk mata kuliah Analisis Algoritma justru saya sebagai asistennya.

“Lantas kamu mau apa?” tanyaku selanjutnya.

“Kita masih berteman kan?” sahutnya dengan nada berharap. Saya mengernyitkan dahi. “Kamu kan bisa katrol nilai tugasku?”

Saya terhenyak. Nuraniku langsung berontak. “Sorry, friend, aku nggak bisa lakukan itu.”

Dia mendekati saya, memegang pundak saya. “Demi pertemanan kita…”

Aku menggeleng keras.

Jimmy terus membujuk-bujuk. “Saya memang nggak pinter, Bud. Nilai tugas ini satu-satunya harapanku agar aku bisa lulus.”

“Bukankah kamu masih ada kesempatan tahun depan?” jawabku.

Temanku satu ini diam. Dia menggeleng lemah. “Ini kesempatan terakhirku, Bud. Kalau tidak lulus sekarang, aku kena DO.”

Ucapan terakhir itu mengusik nuraniku. Saya menjadi harapan terakhirnya. Barangkali tak cuma dia. Keluarganya pasti sangat berharap agar dia bisa menyelesaikan studi sarjananya di ITB. Lalu apa saya tega menghancurkan harapan itu?

Lama saya diam sebelum akhirnya saya berbisik. “Untung kamu datang ke tempatku, Jim…”

Wajah teman saya mendadak sumringah, “Jadi kamu mau menaikkan nilaiku?”

Saya tersenyum sambil berkata datar, “Maksudku, untung kamu datang ke aku, jadi aku bisa jelaskan kalau nilai kamu sudah tak mungkin dinaikkan lagi. Tadi pagi aku sudah serahkan hasil nilai ini ke dosen.”

Seketika wajahnya berubah layu.

Saya berujar setengah berbisik, “Maaf, kawan, kamu memang temanku, tapi jangan paksa saya membohongi nurani.”

Selanjutnya hanya diam ketika dia berlalu tanpa berkata-kata.

***

Sepuluh tahun terlewat setelah saya menjadi katalis drop outnya temanku Jimmy dari ITB.

Hari ini saya memikul tugas berat untuk menyampaikan putusan PHK bagi anak buahku yang kemarin telah melakukan kesalahan fatal. Perintah dari manajemen atas sangat jelas. Dia harus dipecat hari ini juga!

Sejenak saya bimbang dengan keputusan ini. Bukankah kesalahan dia juga disebabkan oleh kelemahan sistem? Apakah karena itu dia lantas harus dikorbankan?

Sebelum mengambil keputusan saya mencoba berdiskusi dengan beberapa anak buah senior yang menjadi supervisor dia. Namun diskusi berjalan alot dalam situasi yang tidak sehat. Tekanan karena kesalahan dan solidaritas antar tim membuat friksi berkembang tajam.

“Kalau kantor pecat dia, sebaiknya kantor pecat saya juga!” ujar salah satu supervisornya. “Saya juga merasa bertanggung jawab terhadap apa yang dia lakukan.”

“Tenang, kawan,” sahutku menenangkan. “Kita semua tahu kondisi tim sekarang. Jangan sampai kesalahan ini membuat proyek besar kita terhenti.”

“Saya mengerti,”jawab sang supervisor. “Tapi tentu jangan dia yang harus dikorbankan!”

“Kita tak hendak mengorbankan dia. Semua dari kita memang harus memikul tanggung jawab atas kesalahan ini. Tapi jika semua ikut-ikutan dipecat, itu bukan tindakan bijaksana.”

“Kalau begitu, jangan PHK dia!”

“Teman, keputusan kita harus mengacu pada aturan dan kode etik perusahaan,” jawabku lebih lanjut. “Kalian jangan terlalu emosional. Ini memang pilihan berat. Tapi hidup masih harus berjalan. Proyek harus tetap diselesaikan.”

“Tapi…”

Saya merasa deadlock ini tak mungkin diuraikan secara singkat. Akhirnya saya sudahi pembicaraan ini tanpa keputusan. Ya, akhirnya memang harus saya yang ambil decision.

Mitra bisnis online, pernahkah Anda dihadapkan pada pilihan-pilihan pelik? Apalagi pilihan ini menyangkut nasib orang, kelangsungan perusahaan, atau masa depan bisnis?

Terkadang kita dihadapkan pada situasi yang dilematis. Kita harus mengambil keputusan cepat yang mesti memuaskan berbagai pihak. Terkadang juga decision ini menyangkut keputusan strategis yang mempengaruhi nasib banyak orang.

Saya merasa pengalaman sepuluh tahun lalu berulang lagi. Saat itu saya mengambil keputusan untuk bertindak jujur meskipun akhirnya teman saya dipecat dari kuliahnya. Namun, kali ini beban persoalan tak segampang dulu. Ini berkait erat dengan berbagai hal, nasib anak buah saya, masa depan tim proyek, kelangsungan perusahaan, dan lain-lain.

Akhirnya meski diliputi kebimbangan, saya panggil anak buah saya yang melakukan kesalahan. Dengan keluguan yang tidak di buat-buat dia datang dan berbicara empat mata dengan saya.

Setelah berbasa-basi sejenak, saya kemudian bicara ke inti persoalan, “Apa kamu tahu apa akibat dari kesalahan yang kamu perbuat kemarin.”

Dia mengangguk.

“Kamu mengerti konsekuensinya?”

Kembali dia mengangguk.

Matanya menatap saya pasrah. Saya diam nyaris tak tega melihat kepasrahan yang terpancar di bola matanya. Dia tak pernah merencanakan kesalahan ini. Dia bukan orang yang culas, korup, atau tak jujur. Murni ini adalah kesalahan yang barangkali tidak disengaja.

Di benak saya terbayang wajah-wajah keluarganya yang berharap banyak dari pekerjaannya. Sekali lagi, apakah saya tega mengecewakan mereka?

Hati saya berperang. Demi melihat kepasrahannya, saya sungguh tak tega. Belum tentu saya akan setegar dia jika berada pada posisinya.

Namun, bukankah aturan harus ditegakkan? Bukankah sanksi yang diberikan telah setimpal dengan dampak dari kesalahan yang dilakukannya? Mungkin sanksi pemecatan ini bisa menjadi obat baginya agar lebih berhati-hati. Dan bukankah obat itu biasanya pahit rasanya?

Lama saya terdiam membiarkan pikiran dan hatiku berkecamuk. Saya cuma bisa berpasrah diri. Sejenak saya berdoa dalam hati. “Tuhan, saya memang bukanlah hamba-Mu yang setia, tapi bantu saya kali ini untuk mengambil keputusan yang tepat.”

Rasanya baru kali ini permohonan doa saya terlontar begitu tulus. Tak lagi sekedar basa-basi.

Saya pandangi anak buahku itu. Mata kami beradu dalam kesunyian.

Ya, sekarang saatnya saya harus ambil putusan. Apapun resikonya.

Salam Untung Nyata!

Artikel terkait :
  1. Sekali Lagi Tuhan Mencuri Rencana Kita
  2. Tak Ada Kesempatan Kedua
  3. Hujan Sepanjang Dago
  4. Bisnis Online = Bisnis Anti Korupsi
  5. Sejenak Menutup Mata…

29 komentar

1 Wibowo Tunardy { 07/08/10 at 8:35 am }

Hidup adalah pilihan. Apa yang kita pilih kemarin menentukan hidup kita hari ini. Apa yang kita pilih hari ini menentukan hidup kita esok.

[Reply]

lowongan fresh graduate | zaki Reply:

@Wibowo Tunardy, terkadang justru ada beberapa keputusan yang justru lebih berpengaruh pada orang lain….tapi apapun itu yang penting optimis aja deh semua pasti ada jalan keluarnya :sip:
lowongan fresh graduate | zaki´s last blog ..Lowongan SMA Sales @ AEON posted 6 Agt 2010My ComLuv Profile

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@lowongan fresh graduate | zaki, terima kasih untuk komentar yang optimis, mas.

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Wibowo Tunardy, suatu kata-kata yang bijak, mas!

[Reply]

2 dafiDRiau { 07/08/10 at 8:39 am }

serba sulit y Mas, kalau diibaratkan ibarat makan buah simalakamah kata orang!!!!

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@dafiDRiau, tul mas Dafid

[Reply]

3 Erdien { 07/08/10 at 12:13 pm }

Betul-betul pilihan yang berat, perang dalam hatinurani yang nilainya berimbang –kebenaran dan pertolngan untuk menyelamatkan orang–
Sepertinya untuk orang yang masih sedikit pengalaman dalam menghadapi hal seperti ini–saya khususnya– sungguh berat dan kemampuan untuk itu belum sampai ke sana.
Makanya Tuhan belum pernah membebankan itu di pundak yang sempit ini :sip:

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Erdien, Terima kasih atas komentarnya, mas. Terus terang ini adalah keputusan terberat yang harus saya ambil.

[Reply]

4 PooSoft-Tips Komputer { 07/08/10 at 8:18 pm }

:puyeng: Diantara Kesulitan diapit 2 kemudahan Mas..Tenang, stay cool

Salam Sukses
Alhijr Adwitiya

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@PooSoft-Tips Komputer, thanks buat dorongan semangatnya.

[Reply]

5 Mas Hengky { 07/08/10 at 11:01 pm }

sering sekali tamparan dalam hidup seperti menggesek 2 batu sehingga memercikkan api..

setiap jalan yang keras pasti menuju sesuatu yang lebih bermakna..
kalo saya yang di PHK, saya akan berteriak kegirangan, karena mulai detik itu saya menjadi manusia merdeka.
saya gak akan ada di sini kalo boss saya tidak memecat saya seminggu setelah saya menikah..
:cendol

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Mas Hengky, ini phk berbuah nikmat ya?:sip:

[Reply]

6 Octa Dwinanda { 08/08/10 at 9:24 am }

keputusan sulit….. jalan terbaik memang mengadu kepada Allah. Dengan istikhorah, insya Allah keputusan yang diambil adalah yang terbaik… Insya Allah
Octa Dwinanda´s last blog ..Bergembira Menyambut Bulan RamadhanMy ComLuv Profile

[Reply]

7 roel { 09/08/10 at 7:18 pm }

terus keputusannya gimana ? kok ceritanya nggantung
roel´s last blog ..Buka Puasa di pesawat terbangMy ComLuv Profile

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@roel, ini komentar yang saya tunggu-tunggu! inti permasalahan yang saya bahas bukan pada keputusan akhir, tetapi pada prosesnya, peperangan batin, dan pergulatan mencapai keputusan. Masalah di pecat atau tidak, itu bukan hal yang penting.

Kalau mas baca cerpen-cerpen modern, selalu endingnya ditutup dengan sesuatu yang menggantung. Biarlah nantinya si pembaca yang mengakhirnya. Inilah cerita yang membuat pembacanya ikut terlibat.

[Reply]

8 suarakelana { 10/08/10 at 3:38 am }

saya selalu berdoa agar bisa terhindar dari situasi demikian. Namun sayang, beberapa kali saya terpaksa memberhentikan orang, bahkan yg terbesar pernah 100 orang lebih tenaga kontrak.
Yang menguatkan saya adalah kesadaran bahwa saya bagian dari sistem, yg harus berjalan sesuai logika dan aturan, bukan atas dasar keinginan pribadi saya.
Kalau dilihat dari sudut pandang perasaan, korbannya bukan hanya yg di PHK, tapi juga yg mengambil keputusan.
suarakelana´s last blog ..Kerjakan Dan Laporkan Hasilnya !My ComLuv Profile

[Reply]

9 Imam Herlambang { 10/08/10 at 9:44 am }

sedih Mas baca cerita yang temen kampus Mas itu :hiks:
tapi emang, kebenaran harus di tegakkan, walaupun apapun resiko nya .

semoga apa yang kita putuskan itu adalah benar :sip:

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Imam Herlambang, ya begitulah mas
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pilihan-Pilihan PelikMy ComLuv Profile

[Reply]

10 hakkyrohman { 10/08/10 at 10:00 am }

memang tidak mudah untuk menentukan pilihan2 yang pelik..
Tp yakinlah pasti akan ada hikmah dibalik pilihan2 yg tlah kita ambil.. Mantap mas ilustrasi ceritanya :sip:
hakkyrohman´s last blog ..Inilah 10 Cara Paling Ampuh Membangkitkan Motivasi Diri Part 2My ComLuv Profile

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@hakkyrohman, ini based on true story saya mas. terima kasih untuk komentarnya.
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Pilihan-Pilihan PelikMy ComLuv Profile

[Reply]

11 Agus Siswoyo { 13/08/10 at 7:00 am }

Saat memutuskan hubungan kerja dengan karyawan, saya berusaha menyampaikan dari sudut pandang yang fair dan tidak memihak siapapun. Memang berat di awal, tapi itulah harga yang harus dibayar dari sebuah ketegasan.
Agus Siswoyo´s last blog ..Launching Free Ebook Panduan SelebloggerMy ComLuv Profile

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Agus Siswoyo, memang berat mas menegakkan sebuah prinsip dan ketegasan.

[Reply]

12 Arief Rizky Ramadhan { 15/08/10 at 6:15 pm }

untuk saat ini saya belum mendapatkan hal tersebut mas namun dengan artikel ini bisa jadi pembelajaran saya di masa depan saat menemukan momen ini nantinya.. :sip:

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Arief Rizky Ramadhan, hidup itu pilihan, Rief. Ini adalah salah satu pilihan yang berat.

[Reply]

Arief Rizky Ramadhan Reply:

@Budhi Kusuma Wardhana, sebenarnya saya sering kalo ulangan teman minta contekan tapi sampai sekarang belum sepelik itu pilihannya hehehe:sip:

[Reply]

13 indobrad { 16/08/10 at 8:11 am }

itu pilihan yang memang pelik. saya pernah sekali mengalaminya dan sungguh berat. tapi kadang hidup memang tidak adil :)

eh iya, salam kenal ya.
indobrad´s last blog ..PB 2010- Bukan Sekedar PestaMy ComLuv Profile

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@indobrad, salam kenal juga.

[Reply]

14 Agus Siswoyo { 17/08/10 at 9:49 pm }

Lama nggak menulis mas…?
Agus Siswoyo´s last blog ..Membangkitkan Energi InternalMy ComLuv Profile

[Reply]

Budhi Kusuma Wardhana Reply:

@Agus Siswoyo, baru seminggu ngabsen mas…

[Reply]

Beri Komentar

:hihi: :hiks: :melet: :nangis: :ngakak: :puyeng: :sip: more »

CommentLuv Enabled
[+] kaskus emoticons nartzco