Tak Ada Kesempatan Kedua

Mungkin harus berani plus nekat untuk mendapatkan apa yang kita mau, harus berani keluar dari zona nyaman dan aman kalo mau sukses.
Pesan singkat itu terkirim dari seorang teman lama yang membuat saya tercenung. Apa selama ini saya memang kurang berani dan nekat untuk keluar dari zona nyaman?
Sejenak hati kecil menyalahkan saya yang cuma pandai menulis dan berteori tapi gagap mengaplikasikannya. “Bud, kamu bisa menulis ide, konsep, dan kebijakan bisnis di blog, namun apa yang sudah kamu dapatkan dari situ?”
Suara lain berbisik. “Kamu memang jago teori, tapi tak punya nyali untuk menerapkannya.”
Menanggapi hal-hal seperti ini, saya cuma bisa berkilah, “Bukannya saya tak berani, tapi saya belum punya waktu untuk itu. Pekerjaan lama saya masih menumpuk begitu rupa.”
“Lantas kenapa kamu tidak mengambil resiko dengan keluar dari pekerjaanmu dan menjadi enterpreneur mandiri?”
“Saya masih belum bisa meninggalkannya. Pekerjaan lama ini masih menyisakan prospek dan karir yang jelas. Selain itu saya punya anak istri yang harus saya hidupi.”
“Kalau begitu, untuk apa kamu berkoar tentang bisnis dan wirausaha di blog kamu?”
Saya terdiam. “Itulah mimpi saya. Saya ingin mandiri. Berbisnis tanpa diatur-atur orang.”
“Lalu kapan semua itu tercapai?”
“Suatu saat nanti. Entah kapan?”
Suara hati saya mendengus kencang. Lantas perbincangan itu pun terhenti begitu saja.
Saya terdiam sekian lama. Berbagai pertanyaan menyerbu kepala saya. Sampai kapan saya bisa merealisasikan mimpi ini?
***
Mitra bisnis online, percayakah Anda bahwa kesempatan itu tak pernah datang dua kali?
Barangkali inilah yang sekarang datang menghampiri saya dan istri. Bermula dari pertemuan dengan teman lama saya di Kantor Pemasaran Bumi Serpong Damai, mendadak teman saya itu menawari istri saya berbisnis tas.
Semula kami sedikit ragu. Apalagi istri saya buta sama sekali bisnis. Latar belakang keilmuannya yang sarjana keperawatan, tentu tak cukup meyakinkan untuk terjun ke dunia jual beli. Namun, sekali lagi apa salahnya untuk dicoba?
Tampaknya dewi fortuna sedang menaungi istri saya. Semua jalan seolah begitu dimudahkan. Modal yang biasanya menjadi kendala utama, terpecahkan secara tiba-tiba. Mobil keluarga kami yang semula milik kantor, pada bulan itu dihibahkan ke saya karena sudah lima tahun.
Gayung pun bersambut. Mobil Honda City 2005 kami jual demi menambal pendanaan. Di sisi lain, kami juga bersemangat mengurus perijinan, pendirian CV, Surat ijin usaha, NPWP, dan lain-lain. Pokoknya kami ingin segalanya terstruktur, teradministrasi, dan profesional.
Langkah berikut menyangkut stok barang dan pemasaran, ternyata bukan menjadi kendala berarti. Dengan semangat luar biasa istri saya dan teman saya, berburu tas-tas impor yang membanjiri Tanah Abang dan Pasar Senen. Semua ditelusuri, dieksplorasi, hingga didapat supplier yang bisa dipercaya dengan harga yang sangat kompetitif.
Bahkan untuk memasarkan, dia tidak menemui hambatan berat. Ini disebabkan teman saya sudah bertaun-tahun terjun di dunia bisnis, sehingga banyak mitra-mitra bisnis yang dikenalnya. Dalam sebulan, istri saya sangat kewalahan untuk mengirimkan ratusan tas ke seluruh pelosok negeri. Dari Aceh sampai Papua. Dari Kalimantan hingga Jogjakarta. Nyaris pelosok Indonesia sudah menjadi target marketingnya.
Sebulan berlalu dan hasil perhitungan bisnis istri saya menunjukkan kalau keuntungan bersihnya melebihi gaji saya sebulan. Luar biasa!
Mitra bisnis online, sekali lagi saya berpikir, barangkali memang dibutuhkan keberanian dan kenekatan untuk mengawali sesuatu yang baru. Dan sekali lagi, ini telah dibuktikan oleh istri saya. Saking nekatnya, dia pun meminta ijin untuk pergi ke Guangzhou demi mendapatkan tas langsung dari tangan pertama .
Meski semua biaya ditanggung dari hasil keuntungannya bulan pertama, namun saya tetap kaget luar biasa. Bukan apa-apa. Setahu saya Guangzhou adalah kota bisnis di China yang sarat oleh pelaku-pelaku bisnis yang tidak jujur. Apalagi istri saya tidak berbekal kemampuan berbahasa yang memadai. Bahasa Mandarin nol besar, Inggrisnya pun plegak-pleguk. Paling yang dia bisa adalah Bahasa Sunda, bahasa Batak Karo, dan secuil Jawa ngoko.
Namun demi melihat tekad empat limanya, saya akhirnya luluh juga. Saya menyaksikan optimisme yang luar biasa di bola matanya.
***
Mendadak Blackberry saya menyalak, segera kuangkat nomor telepon yang sama sekali tak kukenal.
“Mas, aku sudah sampai,” ujar istriku dari seberang sana. “Aku pakai nomor lokal sini, besok aku mau jalan sekitar sini buat cari supplier.”
Hmmm, kembali saya dengar semangat yang menyala dari nada suaranya. Saya hanya berdoa dalam hati, “Semoga berhasil, istriku…”
“Mas,” teriak istri saya dari sana. “Jangan bengong dong. Ini pulsanya mahal. Gimana kabar Audrey? Tadi sebelum aku tinggal agak anget badannya, kamu sudah bawa dia ke dokter? Kamu jadi lembur malam ini di kantor? Awas ya, kamu jangan nakal selama aku tinggal.”
Wah…wah… ternyata memang kecerewetan istri saya tak pernah pergi.
“Iya…iya..,” jawabku pendek.
“Sudah ya mas, aku mau tidur dulu. Aku kedinginan di sini. Suhunya sampai tiga derajat. Jangan lupa antar Audrey ke dokter kalau panasnya nggak turun-turun. Kamu jangan lembur-lembur terus. Itu si Audrey jarang banget ketemu kamu. Ntar kamu dipanggil Om lho.”
Aduh… kapan sih kamu nggak cerewet lagi, istriku?
“Iya… iya…,” jawabku pendek.
Kutekan tombol End dan segera kubuka laptopku. Mendadak saya ingin menulis malam ini. Bercerita tentang bisnis istriku, tentang tabiat istriku yang cerewet, juga tentang semangat dan keberaniannya yang luar biasa.
Saya jadi ingat ucapan Romo Mangun dalam sebuah cerpennya. Dunia ini dipenuhi keseimbangan yang diciptakan berpasangan. Kalau saya seorang yang peragu, pendiam, dan terlalu berhati-hati, bisa jadi saya harus bersyukur karena memiliki istri yang cerewet, bersemangat, nekat, dan senantiasa optimis.
Istriku, entah kenapa saya ingin sekali mengecupmu malam ini…
Salam Untung Nyata!
Artikel terkait :



23 komentar
tak ada kesempatan kedua. kalaupun ada, wujudnya sudah berbeda hihihi…
Saya juga belum berani mengeksekusi dream untuk full time i’net marketer ini…
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
January 16th, 2011 at 10:37 am
@arief maulana, Gak papa mas.. aku juga belum berani. Meski plan ke depannya sekarang semakin jelas.
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Tak Ada Kesempatan Kedua
[Reply]
candradot Reply:
February 8th, 2011 at 2:04 pm
@Budhi Kusuma Wardhana, berarti sebentar lagi donk hehehe
[Reply]
[...] This post was mentioned on Twitter by mudin em and Arief M. W. Arief M. W said: Tak Ada Kesempatan Kedua http://bit.ly/e0KjlO [...]
Luar biasa. Sangat mencerahkan mas!
Saya sampai sangat tergerak!
[Reply]
Budhi Kusuma Wardhana Reply:
January 16th, 2011 at 10:37 am
@Darin, Ayo terus mas!
Budhi Kusuma Wardhana´s last blog ..Tak Ada Kesempatan Kedua
[Reply]
Jadi kapan nih terbang bebas mengarungi rimba bisnis?


Agus Siswoyo´s last blog ..Mencari Ide Bisnis Online- Lewat Gratisan Atau Berbayar
[Reply]
Ketakutan seringkali menjadi penutup pintu kesuksesan, padahal apa yang ditakuti itu belum tentu adanya.
Sementara keyakinan yang diwujudkan dengan perjuangan keras akan mampu mewujudkan harapan, bahkan sesuatu yang dipandang tidak mungkin secara kasat mata pun bisa terjadi.
Sukses Mas!
Semoga apa yang diupayakan keluarga Mas Bud bisa mencapai harapan puncak kebahagiaan karir dan kehidupan.
Salam,
Vidzas Erdien
[Reply]
Semakin lama berjalan seharusnya semakin dekat dengan tujuan juga kan mas???
[Reply]
aich aich……. baca ceritanya gahar euy……. mesra pisan akhirannya kang…..,
ayo mas berbisnis mas…. untuk istri mas, itu contoh yang indahnya mas… mungkin kedepannya baru akan ada tantangan kejutan buat istri mas sebagai rintangannya…. semoga saat rintangan itu datang…. istri mas tetap cerewet dan optimis….
atau mungkin menikmati….
salam buat istri mas… semoga makin jaya bisnis tasnya ya !
[Reply]
memang butuh tidak sekedar keberanian untuk melakukannya. nice inspiring story!
firman´s last blog ..
[Reply]
kalaupun Tak Ada Kesempatan Kedua , bisalah kesempatan ketiga hee
[Reply]
hanya mampir mas budi. baca archivenya. O ya sekalian konfirm kalo diperbolehkan tukar link ya. saat ini link saya pasang disidebar blog saya di link sahabat. Jika ada waktu mampir sejenak ya. salam dari saya
Aryes Novianto
Owner BLOG MEDIA
salam juga sama mas arief yang komen diatas
Aryes Novianto´s last blog ..Spesial penawaran bisnis buat anda
[Reply]
Mumpung masih ada kesempatan menulis komentar di sini.
[Reply]
saya sendiri juga masih takut keluar dari zona nyaman. Mungkin diperlukan keberanian seperti istri mas untungnyata
mahameru´s last blog ..Titik macet di pagi hari Pedurungan – Pandanaran
[Reply]
two thumbs up utk keberaniannya mas dan istri dalam menjalani bisnis, semoga saya dapat meniru nya jika sebuah kesempatan menghampiri kelak…
salam bisnis
Aming´s last blog ..Javahostindo Web Hosting Indonesia
[Reply]
wah2, bener2 mengambil kesempatan yang bagus tuh. hehe.

kamaropini´s last blog ..Teori dan Praktek itu Berkesinambungan
[Reply]
sampai saat ini saya masih berada di zona aman tapi belum nyaman mas, ada keinginan untuk lebih dan bisa memberi. Namun mungkin masalah keberanian itu yang masih belum punya
[Reply]
Pagi-pagi mesranya
Tapi benar, selagi kesempatan itu ada raihlah dan kejarlah karena kesempatan yang ke-2 belum tentu ada dan hadir
[Reply]
Mas Budi,
nice posting and nice blog!
Comfort zone memang menjadi otokritik buat sebagian besar orang
[Reply]
Saat membaca Artikel dan Tipsnya yang benar benar menarik. Jadi ingin mencoba. Salam sukses selalu
alang alang´s last blog ..Hasil Penelitian Farmokologi Dan Biologi Pada Alang-Alang
[Reply]
Ide cemerlang saya dapat dari Artikel yang di buat di Wibesite ini, Wajib dicoba Tipsnya. Semoga berhasil
kunir putih´s last blog ..Kandungan Kunir Putih
[Reply]
:nangis:
Ya ….. kesempatan hanya satu kali untuk saat ini ; besok ada kesempatan lagi untuk hari besok demikian juga lusa.
Kesempatan muncul jika kita mau peduli; mau melihat keluar.
[Reply]
Beri Komentar